Jumat, 19 Juli 2013

Ada yang Serba Ungu-Ungu nih dari Bang Felix...


Yuk, Behijab!

Baru beli di bulan pertama penerbitan, Juli 2013 dan masih baru cetakan pertama. Penerbit Mizania.
Awalnya waktu pergi ke toko buku Togamas aku berniat beli buku Rantau 1 Muara. Eh waktu mata ngelirik kanan kiri ngeliat ada buku ini. Beli deh. Padahal tadi sebelum berangkat izinnya ke ibu cuma beli satu buku. Pulang-pulang bawa 2 buku dan habisin lembaran merah pula. Hiks...hiks...

Satu keuntungan di Togamas yang nggak pernah kalian temuin di toko buku lain (kali’...) adalah diskonnya. Di Togamas rata-rata semua bukunya diskon 25%. Harga asli buku ini 52.000 didiskon 15%, jadinya cuma 44.200. Seruuu... Kok, jadi promosi yah...

Ok, let’s check it out...

Secara global buku ini menjelaskan tentang kewajiban menutup aurat yang SYAR’I bagi Muslimah. Berkerudung dan menutupi seluruh aurat, kebanyakan wanita Muslim pasti sudah tahu. Tapi, tidak banyak wanita Muslim yang tahu bagaimana cara menutup aurat yang benar sesuai perintah Allah dalam al-Quran. Jangan pikir dengan menutupi seluruh aurat berarti sudah memenuhi persyaratan dalam Islam. Yang nutup aurat ala body-lah (body press), yang pake kerudung ala punuk unta-lah (nonjol-nonjol di kepala), yang pake make up warna warnilah di muka.  Masih ada beberapa ketentuan penting lainnya yang wajib dipenuhi pula. Bila tidak, murka Allah akan selalu terbuka untuk kita. Na’udzubillah...

Lagian buku ini insyaAllah akan sangat menarik untuk dibaca karena desainnya mirip komik dan full color. Visualisasinya keren abizzz... Dan di setiap lembarnya selalu ada kejutan gambar yang seru dan lucu.

Mangkanya buruan baca sebelum murka Allah datang dan kita bisa segera bertaubat setelah mengetahui kebenaran dariNya. Dan supaya kita bisa menjadi Muslimah sejati yang taat terhadap segala ketentuan dan peraturan dari Allah. InsyaAllah Surga akan teraih. Aminnn... ;-)

Rabu, 17 Juli 2013

‘LUCUNYA’ DAKWAH DI KAMPUS UNAIR. Hiks... hiks...

Semoga pengalaman ini bisa semakin menghidupakan dakwahmu di kampus...


Ceritanya berawal daftar ulang calon mahasiswa baru (maba) yang berlangsung tanggal 16-17 Juli kemarin di Universitas Airlangga. Alhamdulillah, tanggal 8 Juli adalah tanggal ditetapkannya takdirku menjadi calon  mahasiswa baru di UNAIR di fakultas farmasi dengan prodi S1 pendidikan apoteker. Predikat mahasiswaku tidak akan lengkap tanpa daftar ulang yang berlangsung di gedung ACC UNAIR. So, tanggal 16 sangat kutunggu-tunggu.

Nggak kebayang gimana lamanya daftar ulang yang harus menampung ratusan calon maba. Pasti banyak waktu yang kebuang di sana kalau kita nggak punya ide untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan pahala apalagi di bulan Ramadhan. Nah, kalau udah ngaku pejuang Islam ideologis penerus pejuangan rosul pasti akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk saling share tentang Islam kepada teman-teman yang baru dikenal.

Sebelum daftar ulang berlangsung, aku bertemu dengan beberapa kakak angkatan yang betul-betul memahami Islam dan beberapa dosen ideologis juga. Di situ kita membahas tentang kegiatan yang bakal dilakukan saat daftar ulang calon maba berlangsung. Akhirnya, kami memanfaatkan waktu itu untuk berinteraksi dengan calon maba sekalian sebar opini tentang berbagai macam fakta kerusakan sekarang sekaligus dimintai no telpon barangkali bisa diajak ke kegiatan kajian Islam lain waktu.

Ternyata rencana kami sudah di dengar oleh anggota BEM yang juga ditugasi untuk menjadi panitia penerimaan calon maba. Jadi kendali penuh daftar ulang calon maba ada di tangan mereka. Anak BEM sangat ‘berhati-hati’ dengan kegiatan yang bakal kami lakukan saat daftar ulang calon maba karena mereka menganggap kami akan menyebarkan ide-ide kepartaian, brand washing, dan segala macam isu-isu negatif tanpa pembuktian. Wew, dugaannya nyeleneh dan jauh banget dari faktanya. Kami loh tidak melakukan apa-apa dan tidak se-extrim itu. But, no prob, kami akan terus melakukannya.

Hari Pertama Daftar Ulang, 16 Juli 2013

BEM sudah bersiap-siap mengerahkan anggota-anggotanya untuk mengantisipasi masuknya kakak-kakak mahasiswi yang mau masuk ke pintu masuk pendaftaran karena anggota BEM sudah tahu maksud kedatangan mereka kemari. Apalagi penampilan kakak-kakak mahasiswi yang menggunakan kerudung dan jilbab pasti akan sangat mudah dikenali.

Saat aku memasuki pintu masuk pendaftaran, sepertinya anak BEM mulai mencurigaiku karena aku memakai kerudung dan jilbab. Tapi beruntung, di belakangku ada ibu yang menemani dan beberapa dari mereka sudah tahu kalau beliau dosen di UNAIR. Jadi, mereka tidak mau bertindak macam-macam. Heheh. Lantas gimana kakak-kakak mahasiswi yang lain? Mereka bisa masuk nggak yah?

Tapi alhamdulillah, saat aku mencari tempat tangga duduk yang kosong aku melihat beberapa dari mereka berhasil masuk tanpa dicurigai oleh pihak BEM. Dan beberapa dari mereka juga sudah mulai berbincang-bincang dengan calon maba. Pasti calon maba juga seneng kalo didekati sama kakak angkatan ;). Di depanku beberapa anak BEM berjalan mondar-mandir terlihat seperti mengawasi kami-kami. Nggak lama kemudian, aku melihat mbak BEM tiba-tiba naik ke tangga. Dan saat aku lihat arah jalannya menuju ke salah satu kakak mahasiswi yang menggunakan jilbab yang lagi berbincang-bincang dengan calon maba. Wah, apa gerangan yang terjadi? Jangan-jangan? Dan ternyata betul seperti dugaanku, kakak itu langsung di suruh keluar oleh mbak BEM. Ya Allah, sebegitukah? Emangnya anggota BEM tahu betul apa yang kami lakukan. Orang kami juga hanya mengajak kenalan dan berbincang-bincang mengenai kemahasiswaan. Barangkali dari situ kami bisa memberikan motivasi kepada calon maba. Lagian kalau mereka menganggap kami menyebarkan ide-ide Islam yang brand washing, mananya yang brand washing? Kalian dan kami adalah orang Islam. Ngajak ngaji Islam aja udah dicuragai yang nggak-nggak. Pliss deh, kalian Muslim nggak sih. Mengaku Muslim tapi malah menghalangi aturan Allah disebarkan. Ckckck... nggak habis pikir apa yang ada dipikiran mereka. Dosa loh...

Kalau aku sih alhamdulillah aman-aman aja, jauh dari incaran anak BEM. Jelaslah, akukan calon maba. Jadi, aku bisa mendapatkan banyak kenalan meskipun cuma tiga anak dan sekalian diskusi tentang sistem pendidikan sekarang yang berorientasi duit. Tuh kan, nggak aneh-aneh, nggak seperti yang ada di bayangan mereka, anak-anak BEM. Mangkanya jangan su’udzon dulu to mas mbak BEM... mbo’ ya tabayyun.

Hari Kedua Daftar Ulang, 17 Juli 2013

Nah, di hari kedua ini kisahnya baru sesuai dengan judulnya ‘Lucunya’ Dakwah di Kampur UNAIR. Kalau di hari pertama tadi bisa dilucu-lucuinlah...

Hari ini aku ke tahap daftar ulang selanjutnya yaitu pemeriksaan kesehatan di rumah sakit UNAIR jam 8 pagi. Setelah selesai di cek pendengaran dan penglihatan sama dokter-dokter muda aku kembali menuju ke gedung ACC UNAIR karena di sana kegiatanku masih berlanjut. Cari kenalan baru lagi... Sebelum sampai sana aku sms ke teman SMP yang kebetulan juga diterima di UNAIR namanya Saffanah sekaligus teman seperjuanganku.

Zizi: Eh, km  msh d dlm?

Saffanah: Iy, km mau masuk?

Zizi: Iy, ni td hbs pemeriksaan

Saffanah: Oke. Kakak2nya ndak bisa masuk deh kayaknya. Byk anak BEM

Zizi: O gtu. Ak blh msk g yah?

Saffanah: Hoho gatauu, cobaen aja

Kan sebenarnya waktu daftar ulangku sudah selesai kemarin, kira-kira bisa masuk nggak yah sekarang. Ya dah, coba aja, bismillah. Sepertinya penjagaan dari anak-anak BEM lebih ketat daripada kemarin. Sesampainya aku di pintu masuk pendaftaran, tiba-tiba mas BEM menghadangku di tengah pintu. Seperti kriteria yang patut dicurigai, pake kerudung dan jilbab.

Mas BEM: “Ini mau ngapain? Pengantar atau..”

Zizi: “Aku maba mas...”

Mas BEM: “Oo, ya udah silakan masuk”

Dasar anak-anak BEM, mentang-mentang aku pake jilbab langsung aja dicurigai yang nggak-nggak. Saat aku menaiki tangga duduk aku bertemu dengan bu Ami, ibunya Saffanah yang kebetulan juga dosen fisika di UNAIR. Kita bertiga duduk bareng dan berbincang-bincang.

Bu Ami: “Saya tuh heran dengan anak BEM. Mau mereka itu apa? Andai kalau mereka tahu apa yang kita perjuangkan ini untuk Islam dan mereka menghambatnya, dosa besar itu. Sebenernya apa sih yang ada di benak mereka?”

Saffanah: “Iya barusan aku juga ngeliat ada salah satu kakak UNAIR yang juga di deketin ama mbak BEM terus langsung di suruh keluar.”

Setelah itu kami bertiga berpencar mencari kenalan calon maba. Saat aku berbincang-bincang dengan teman baruku lagi-lagi aku melihat mbak BEM sedang mengawasi sekitar. Pandangannya menuju ke atas ke arah bu Ami dan langsung menghampiri. Tapi dia tidak langsung menegur bu Ami. Dia duduk di belakang beliau. Secara gitu, bu Ami kan dosen dan tidak berpenampang seperti mahasiswa. Sepertinya sebelum melakukan aksinya dia berpikir-pikir dulu sambil mengawasi. Takut salah target kali...

Dan alhamdulillah, akhirnya hari ini aku bisa dapat 2 kenalan. Salah satunya juga sama-sama anak farmasi dari Malang.

Sampainya di rumah aku menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada ibuku. Ternyata ibuku juga punya cerita yang nggak kalah seru. Kebetulan tadi ada salah satu teman ibu berinisial pak M yang anaknya juga daftar ulang hari ini. Beliau seprofesi dengan ibuku sebagai dosen matematika.

Pak M bercerita kepada ibu dengan kondisi marah, “Tadi saya mengantarkan anak saya daftar ulang karena sempat ada beberapa masalah dengan NIMnya. Lah, waktu saya masuk ke gedung tiba-tiba ada anak BEM hadang saya dan tanya sedang apa bapak kemari, kalo tidak berkepentingan dilarang masuk. Berani-beraninya. Saya ini dosen di sini anak saya sedang ada masalah di dalam. ‘ooh... gitu pak, ya, ya, silakan masuk pak’. Andai dia tahu kalo aku barusan naik tensi bu, dia nggak bakal berani hadang saya kayak gitu. K****G A**R itu...”

Aku langsung tertawa saat ibu menceritakannya. Akhirnya dia bisa merasakan ulahnya sendiri. Salah sendiri siapa suruh berantisipasi tinggi terhadap semua orang yang masuk gedung. Kena makan dosen kau... Lah sekarang pertanyaannya, yang bikin ketidaknyamanan siapa? Yang bikin kegaduhan siapa? Yang jadi ‘badan intelejen’ siapa? Yang jadi mata-mata siapa? Jelas-jelas orang bisa bebas keluar masuk, siapapun berhak masuk. Lah kok aneh-aneh, pake ditanya-tanyain segala. Giliran yang kena dosen, mau apa? Orang berbuat sesuatu karena Allah kok dihambat. Jangan berani-berani dengan Allah.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (TQS. Ar-Rum [30]:7)

“Dan orang-orang yang mencurahkan kemampuannya semata-mata karena Kami.” (TQS. Al-Ankabut [29]:69)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (TQS. Muhammad [47]:7)

Hampir Menuju 100% Jadi Mahasiswa

Inilah jawabannya...

Alhamdulillah, setelah sekian lama impian ini terpendam selama 3 tahun. Akhirnya berbuah juga. Insya Allah aku hampir dinyatakan 100% menjadi mahasiswa S1-Farmasi UNAIR karena hari ini aku sudah melewati daftar ulang, yeeee...  meskipun sebenernya lamanya daftar ulang nggak keitung karena aku harus antri di 5 loket A-E. Untuk melengkapinya menjadi 100% aku harus melewati ospek dulu baru bisa dibilang mahasiswa farmasi UNAIR. Tapi gitu-gitu aku udah kepedean ganti profil studi di fb focus on Faculty of Pharmacy at Airlangga University. Heheh, but no prob. Lagian sebenarnya aku sudah dinyatakan sebagai mahasiswa di UNAIR, kan aku uda punya NIM. :-) Judulnya juga nggak gitu-gitu amat sih sebenernya.

Mungkin temen-temen yang udah diterima di PTN pasti ngerasain gimana proses pengumpulan data saat daftar ulang yang ribetnya minta ampun. Sampai segala macam kertas yang mencantumkan kekayaan kita harus di upload, kayak rekening tagihan air, rekening tagihan listrik, rekening pajak, luas tanah, daftar gaji orang tua perbulan, dan yang sejenis itu. Setelah 2 hari lamanya baru bisa selesai semua, mana saat proses pengiriman data koneksinya lola banget pula. Jadi merasa terganggu dan kurang khusu’ melaksanakan ibadah puasanya. Tapi alhamdulillah bisa selesai juga dan jadwal untuk daftar ulang akhirnya muncul, tanggal 16 Juli 2013, jam 08:30.

Pagi ini aku sudah menyiapkan diri tepat waktu dan datang tepat pukul 08:30 sesuai jadwal. Kupikir aku bakal dapat no urut depan, ternyata jauh dari dugaan aku dapat no urut 248. Dan saat itu yang baru dipanggil baru no 1-25. Wew… bakal ngapain nih sambiil nunggu dipanggil petugas. Aku manfatin aja buat kenalan ama maba yang lain sekalian ngajak mereka diskusi tentang sistem pendidikan sekarang, pasti bakal nyambung. Dia sendiri juga ngerasa kalo sistem pendidikan sekarang berlandaskan materialistik. Buat dapetin satu kursi di PTN yang diinginkan aja bisa ngeluarin ratusan juta kalo ternyata dari sisi akademiknya jelek dan susah cari PTNnya. Sistem pendidikan dijual dengan uang? Macam apa itu? Tapi aku sih belum sampai menjelaskan sampai ke solusi Islam soalnya setelah diskusi aku baru tahu kalo dia Kristen. But it’s ok, bertahap. Kan Islam juga agama yang menaungi seluruh umat manusia.

Kembali lagi… Dan akhirnya sekitar pukul 12an no urut 226-250 dipanggil untuk menuju ke… (kita liat, hampir ada masalah di tiap loket)

Loket A. Di loket A ada sekitar 6 petugas kalo nggak salah yang mengecek kelengkapan data calon maba. Dan asemnya, kebetulan aku kedapetan antrian barisan yang petugasnya lama banget ngecek data calon maba dibanding petugas lain. Temen-temen di barisan sebelah kanan kiriku sudah maju lima kursi sedangkan aku masih stagnan di tempat dudukku. Akhirnya, it’s my time. Sebelumnya aku sudah mengecek kelengkapan data-dataku dan aku percaya tidak ada yang kurang karena sudah sesuai dengan persyaratan. Tapi eh tapi, tanpa pemberitahuan sebelumnya tiba-tiba petugas meminta fotokopi KK. Padahal jelas-jelas tertera dipersyaratan nggak disuruh fotokopi KK. Dan akhirnya orang tuaku bela-belain pulang ke rumah lagi buat ambil KK. Ckckck…

Loket B. Loket tempat verifikasi sidik jempol. Lagi-lagi masalah datang lagi. Secara gitu, yang namanya auditorium UNAIR itu gede, luas, dan pasti ber-AC. Itu yang membuat masalah karena telapak tanganku jadi kering kerontang sampai kayak kulit nenek-nenek ditambah tubuh dalam kondisi kekeringan karena puasa. Jadinya sidik jempolku tidak terdeteksi dan solusinya harus dibasahi. Namanya juga bulan puasa pasti nggak ada air minum dong. Satu-satunya solusi aku harus ke kamar mandi dan lokasinya lumayan jauh dari loket B. Tadinya sih aku berencana melakukan hal jorok, heheh. Coba tebak apa… iya, dikasih air ludah. Tapi itu nggak bakal aku lakuinlah #gilani. Saat kembali dari kamar mandi aku harus antri lagi untuk mendapatkan giliran.

Loket C. Ini loket yang aku tunggu-tunggu. Sebenernya semua loket juga butuh penungguan. Tapi yang ini beda soalnya di loket ini aku akan memilih ukuran jas almamater yang akan aku pakai saat kuliah nanti. Jadi merasa berbangga diri akan menjadi mahasiswa, eh mahasiswi sungguhan. Aku dapat ukuran M. Dan aku juga mengukur topi, entah topi apa itu namanya, agak aneh bentuknya.

Loket D. Kalo di loket C sih memang nggak ada masalah. Di loket ini pengambilan foto calon maba buat kartu mahasiwa. Kerudungku kontrol nggak yah? Wih.. pake jas almamater juga fotonya! Cekrik… dan saat aku lihat hasilnya mataku mengkerut. Hah… jelek banget hasilnya. Ini fotokan buat seumur hidup jadi mahasiswi. Perasaan dari dulu tiap kali foto buat jangka panjang entah KTP, paspor selalu un control. Ya sudahlah…

Loket terakhir… Loket E. Di sini calon maba akan diberikan jadwal untuk tes kemampuan dan tes B.Inggris (TOFEL).  

Setelah itu, it’s time to open rekening. Ini juga waktu yang aku tunggu karena aku akan mendapatkan rekening tabungan baru dan pertamakali dan ATM privacy. Selama ini sih kalo transfer uang masih atas nama abahku. Dan sekarang aku akan mendapatkan ATM atas my own name.


Dan akhirnya sekitar pukul 1 siang aku bisa meninggalkan auditorium dan pulang. Tapi sebelumnya aku sempet mampir dulu ke stand anak farmasi buat tanya-tanya tentang ospek dan mengisi form sekalian kenalan ama kakak-kakak angkatan, meskipun sebenernya aku ama mereka seumuran sama-sama lahiran 94. Sebenernya ada keanehen yang terjadi. Kebetulan saat aku ke stand tersebut aku membawa adikku berumur 5 tahun karena ibu menitipkannya padaku sebentar. Masak waktu aku ngajak adikku aku dibilang ibunya. Wew yang bener aja, gua kakaknya. Nggak keliatan muka semuda ini ala mahasiswa. Waktu aku cerikan hal itu  kepada ibuku, ibuku ngakak abis. Dan parahnya lagi ibuku juga pernah dibilang orang nenek-nenek soalnya bawa anak kecil umur 5 tahun. Ckckc... Dunia sekarang memang aneh.






21:30/16-07-13/Selasa/Daftar Ulang

Minggu, 07 Juli 2013

PLAN B TERLAMPAUI, AKHIRNYA...

Dag dig dug... tinggal 19  jam 14 menit lagi batas penantian akan berakhir. Semoga sesuai dengan harapanku.

Tadi pagi aku mengikuti tes ujian mandiri di UNAIR kampus B. Jujur, aku samasekali tidak tegang menghadapinya. Bahkan aku menganggapnya hanya ‘main-main’. Kalau dibanding dengan perasaanku saat mengikuti tes SBMPTN jauh lebih wow dag dig dugnya dan lebih tegang. Gimana tidak. Jelas-jelas biaya pendidikan kuliah melalui jalur SBMPTN lebih murah dibanding jalur mandiri. Mana tes mandiri yang aku pilih UNAIR pula, yang katanya hanya satu-satunya PTN yang mengenakan UP mahal. Jelas aku tidak berharap bisa masuk melalui jalur ini. Buat jaga-jaga aja sih, barang kali ada something unpredictable yang tiba-tiba terjadi. Dan mungkin dengan aku mengikuti jalur mandiri ternyata itu jalur yang terbaik buatku. But, I don’t know, actually it’s not my wish. I just try and take a chance.

Sebenernya tadi pagi yang membuatku bĂȘte. Jelas-jelas di kartu identitasku ujian mandiri akan dimulai pukul 08.00 dan peserta dihimbau untuk hadir 30 menit sebelum ujian dimulai untuk pengecekan ruangan. Aku sudah mempersiapkan diriku lebih awal, bahkan sekitar 45 menit aku sudah tiba di tempat. Eehh, ternyata saat aku menaiki tangga menuju lantai tiga di gedung FISIP, suasana sudah sangat sepi. Gimana nggak shock… Saat aku menemukan ruanganku 308 dan aku membuka pintu, semua peserta sudah duduk rapi dan sudah melingkari bulatan-bulatan di lembar jawaban. Jadi heran ama sistem waktu orang Indonesia, unpredictable… kadang suka telat. Tapi giliran in time, kebablasan sampai-sampai sudah mulai duluan sebelum jadwal yang ditetapkan. Jadi bikin pikiran kacau. Tapi secepat mungkin aku bisa menangkalnya.

Dan kali ini aku bisa bangga pada diriku sendiri karena manajemen waktuku bagus dalam mengerjakan soal. Aku berhasil mengerjakan soal yang aku bisa sampai waktu habis. Yah, meskipun sempet kelewatan 2 soal yang belum aku baca sih. But over all, it’s ok. Ketimbang saat aku mengikuti SBMPTN. Bahkan menit-menit sebelum bel, aku belum memulai mengisi lingkaran. Parah… tapi, itu sudah berhasil aku atasi dan jadinya pasti ngos-ngosoan.

Aku benar-benar enjoy mengikuti ujian mandiri ini. Saat ujian mandiri berlangsung otakku tidak sepenat dan sekaku saat mengikuti SBMPTN. Karena aku menganggap aku tidak harus memenuhi tuntutan untuk masuk melalui jalur mandiri. Jadi benar-benar bisa merasakan bedanya saat otak dipaksa untuk tidak tegang dengan otak yang dengan sendirinya merilekskan diri. Kata ibuku, jangan tegang anggap aja main-main. Lagian kamu juga udah keterima di SBMPTN. Amin… Kata-kata itu lumayan manjur juga untuk melunakkan otakku.

Ah, insyaAllah dah. Don’t talk about ujian mandiri. Aku yakin aku bisa diterima di SBMPTN. Kita lihat saja apa yang terjadi 19 jam ke depan. InsyaAllah, aku sudah berusaha memaksimalkan usahaku untuk memperoleh apa yang aku impikan. Aku yakin Allah sudah mempersiapkan yang terbaik buatku dan pastinya untuk jalan dakwah ini. –,<

Oh y, tadi juga ada kejadian yang hampir membuatku menangis, lebih ke mewek sih sebenernya, nggak sampek mengeluarkan air mata kok. Saat keluar dari ruangan 308, aku menyengajakan diri untuk tidak langsung pulang. Duduk di koridor bentar sambil baca koran dan nungguin parkiran yang ramai motor keluar. Udah sepi, aku langsung beranjak ke parkiran. Pake slayer, kaos tangan, helm, dan… OH GOD… TIDAK… DI MANA KUNCI MOTORKU??? Aku obrak-abrik tasku barang kali terselip. Padahal tasku kecil dan hanya ada 1 kantong besar dan 1 kantong kecil. Sebenernya cuma dilihat aja tanpa diobrak-abrik bisa keliatan di situ ada kunci atau tidak. Gantungan kuncinya besar bertali. Masalahnya, itu motor yang kupakai bukan motorku. Itu motor pinjaman. Kalau motorku juga bakal masalah sih. Oh tidak, what should I do. Aku berpura-pura menampakan wajah setenang mungkin karena aku tidak ingin orang bisa membaca wajahku yang lagi kehilangan barang lalu mereka juga akan meributkan kunciku yang hilang.

Aku kembali menelusuri jalan yang aku lewati. Tapi tidak ketemu. Ya Allah gimana nih. Nggak mungkin aku menghilangkan kunci yang bukan punyaku. Kalangkabut… Tapi aku yakin pasti ada jalan, pasti. Tiba-tiba terlintas ingatan. Perasaan aku tadi samasekali tidak memasukkan barang kecuali slayer dan kaos tanganku ke dalam tas. Apa jangan-jangan… akhirnya aku langsung menghampiri petugas parkir dan menanyakan kunciku. Perasaanku lega ketika mendengar petugas menjawab, “ooo, yang ada talinya panjang itu yah?”

Alhamdulillah, meskipun belum pasti itu punyaku atau bukan setidaknya berpeluang besar kalau kunci itu pasti punyaku. Dan ternyata betul. Huh… bisa pulang deh tanpa membawa masalah. So, NOTE: Jangan bertindak ceroboh dalam kondisi apapun.

Senin, 01 Juli 2013

My Master Plan

Rencana Masa Depan:

TAHAP PERTAMA: SBMPTN. Target: Farmasi-UNAIR, FKM-UNAIR, Tekpang-IPB. I'm waiting for U
- Pengumuman: 12 Juli 2013

PLAN B: ikutan PPMB UNAIR (Farmasi), insyaAllah segera daftar.
- Pendaftaran: sd 3 Juli 2013 (300.000)
- Ujian: 7 Juli 2013
- Pengumuman: 15 Juli 2013
- Registrasi MaBa: 29-31 Juli 2013

PLAN C: ikutan SPMK UNIBRAW (Farmasi). Daftarnya bisa nungguin pengumuman SBMPTN dulu. 
- Pendaftaran: sd 14 Juli 2013 (500.000)
- Ujian: 18 Juli 2013
- Pengumuman: 23 Juli 2013


(175.000+300.000+500.000=975.000. Gila... buat daftar doang, udah habisin hampir sejuta, ckckck)

Kalau dari ketiga plan kagak keterima juga (mati aja...!!!). Nggaklah, seorang Muslim sejati nggak boleh patah hidup dong. STRONG WILLING & STRONG FAITH, that's the key to reach my future. Always be positive. Allah knows the best for me. Wish me luck...

And... Harapan terakhirku dari yang paling akhir...