Rabu, 25 Desember 2013

Suratku #1

Ini dia suratku yang pertama, bukan untuk teman yang tak kusebutkan namanya. Tapi...stststst...jangan keras-keras. Ini buat kakak panitia.

Kejadiannya sama dengan posting blogku sebelumnya. Nah, kalo ini bedanya aku yang harus menguatkan diriku agar tetap istiqomah di jalan dakwah. Sebelum aku punya inisiatif menulis surat, aku sudah mencoba untuk melobi ke kakak panitianya langsung berkenaan dengan ketidakikutsertaanku dalam kegiatan ini. Tapi belum ada keputusan yang diberikan oleh mereka. Aku yakin mereka pasti berunding terlebih dahulu dengan panitia-panitia yang lain mengenai hal ini. Dari pada alasanku hanya didengarkan oleh satu kakak panitia, yang nanti juga bakal disebarin ke panitia yang lain. Iya kalau yang disebarkan kakak itu kepada panitia lain mirip titik komanya dengan alasan yang aku ungkapkan kepadanya, kalau tidak bisa jadi fitnah. Jadi, lebih baik aku menulis surat agar aku bisa lebih leluasa memberikan hujjah yang jelas dan bisa leluasa ngomong dari hati ke hati J

Here is...

Assalamualaikum wr.wb.

Untuk kakak-kakak panitia...

Entah ini dinamakan surat apa, surat pernyataan, surat curhatan, atau  apalah... Emm, intinya surat ini berisi alasan kenapa saya tidak bisa mengikuti Jelajah Alam (nama acaranya aku ganti, sebenarnya bukan jelajah alam tapi acaranya sejenis dengan itu). Sebenarnya alasan yang akan saya ungkapkan tidak berdasarkan dari pendapat saya pribadi atau pendapat orang tua yang memaksa untuk tidak ikut Jelajah Alam. Saya seorang Muslimah yang selama hidup saya selalu mengkaji Islam dari segala aspek, termasuk salah satunya pergaulan dalam Islam.

Alasan yang kakak dengar dari saya memang hanya sebatas karena acara Jelajah Alam terdapat unsur campur baur (ikhtilath). Ternyata alasan saya ini terlihat kalah dan kakak juga bisa menjelaskan balik kalau di Jelajah Alam nggak ada campur baur kok, lagi pula ini juga bertujuan untuk ajang pembelajaran sambil refreshing bersama angkatan dan civitas akademika. Dan kendaraannya dipisah kok cewek dan cowoknya.
Untuk pembelajaran, saya yakin semua akan mengatakan itu hal positif. Apalagi dengan bertadabbur alam sekalian bisa menikmati dan mensyukuri ciptaanNya. Itu memang baik, sangat baik. Tapi kakak... ternyata ada kondisi tertentu, di mana tetap ada unsur ikhtilath dan Allah tidak meridhoi itu. Kalau saya kutip dalam buku Peraturan Hidup dalam Islam karangan Syekh Taqiyuddin An Nabhani,

“dalam kehidupan umum, pada dasarnya status keduanya (pria dan perempuan) adalah terpisah. Keduanya tidak boleh melakukan pertemuan dan interaksi selain yang telah dibolehkan, diharuskan, atau disunnahkan semisal ibadah haji, jual beli, pendidikan (sekolah/kuliah), kedokteran, pertanian, industri.. sementara itu berkaitan dengan aktivitas yang sama sekali tidak mengharuskan adanya interaksi diantara keduanya –seperti berjalan bersama-sama di tempat umum, pergi bersama-sama ke suatu tempat, atau bertamasya, makan minum bersama, dan sejenis hiburan lainnya– itu termasuk ikhtilath dan tidak diperbolehkan dalam Islam.”

Mungkin kalau alasan saya sebatas alasan pribadi yang pastinya punya peluang kelemahan, bisa jadi itu akan terkalahkan dengan pendapat yang lebih kuat. Tapi di sini saya berbicara dalil karena kita Muslim (bagi yang merasa Muslim). Karena dalam buku itu juga dijelaskan “tidak ditemukan satu dalil pun yang membolehkan adanya pertemuan dan interaksi diantara pria dan wanita dalam perkara di atas.”

Yaaahh...beginilah kakak...serinci ini Islam mengatur pergaulan karena kelak...ada hari pertanggungjawaban yang harus kita hadapi. Justru hal ini semakin menunjukkan kesempurnaan Islam.

Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Tak lain karena saya hanya berusaha untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah meskipun terkadang sendiri dan tidak mudah JJJ

Terimakasih kakak-kakak telah membaca dan menampung tulisan sayaJ Semoga kita semua mendapatkan rahmat dan ridho dariNya. Amin J
Wassalamu’alaikum wr.wb.

20-09-13/21:28/Jumat
Salam Hormat,

Azimatur Rosyida

Suratku #2 untuk Teman yang Tak Kusebutkan Namanya

Tu judul...??? Suratku yang pertama aja belum aku publish, udah aja posting yang kedua. heheh...

Long time no see...

Kangennn, udah lama nggak berkecimpung lagi di blog. Sebenarnya uda sering juga aku mengingatkan diriku sendiri biar segera update blog. Bahkan tulisan COME ON ZIII...UPDATE BLOG udah menjadi pemandanganku tiap hari di layar laptopku sebagai reminder. But it just word. Atau mungkin karena tulisanku sudah aku eksplor pada pembuatan jurnal 2x tiap minggu yang tiap jurnalnya terkadang membutuhkan sampai puluhan lembar. Iya, barangkali itu yang menjadi faktor aku tidak punya sense lagi untuk menulis di blog. Tapi seharusnya itu bukan menjadi alasan untuk tidak menulis lagi di blog, bukan?
Emmm... sebenarnya kalo dipikir-pikir lagi sih, alasannya bukan hanya itu saja. Jujur, selama aku memasuki dunia perkuliahan tidak mudah bagiku beradaptasi dari lingkungan yang selalu memberikanku support ke lingkungan di mana aku harus membuat keputusan sendiri. Karena saat itulah, hanya kepadaNya lah aku menyerahkan segala urusanku dan hanya kepadaNya lah aku berpijak. Absolutely, saat itu terjadi banyak rintangan yang harus aku hadapi di kampus.

Bahkan seseorang yang harus aku kuatkan di jalan dakwah ini bukan hanya diriku saja tapi ada beberapa temanku seperjuangan yang juga membutuhkan dukungan. Suatu hari di kampus akan diadakan acara ke luar kota. Kalau dilihat-lihat acara itu bermanfaat dan bisa memberikan banyak pengetahuan baru. Intinya, setelah ditelusuri ada unsur ikhtilat di situ. Temanku yang tidak kusebutkan namanya **** ini sempat goyah dengan prinsip yang selam ini ia pegang dan dia bercerita kepadaku. Kebetulan waktu kami untuk berdiskusi sangat singkat. Aku jadi merasa tidak tenang karena apa yang ingin kusampaikan padanya belum tuntas. Inisiatif lain aku tempuh. Aku menulis sebuah surat untuknya. 

Here is...

Assalamualaikum...

**** yang dirahmati Allah. Sebenarnya semua keputusan ada di tangan ****. Tidak ada keterpaksaan mengikuti pendapat ini, pendapat itu, pendapat sana, pendapat sini. Kalau aku boleh tanya, **** yakin kan apa yang **** bawa itu benar dan dari Allah?

Ada dua hal yang sejatinya tidak bisa dipungkiri:
11.  Kebenaran dari Allah tidak ada yang bisa merubah sekalipun adu pendapat.
  2. Dan setiap kesalahan yang tidak bersumber dari hukum Allah, tetaplah sebuah kesalahan. Meskipun kesalahan tersebut diracik seenak mungkin agar bisa diterima oleh semua lidah. Sejatinya itu tetap sebuah kesalahan yang pahit, karena ada satu komponen yang belum dicampurkan dalam racikan tersebut yaitu gula, tak lain hukum Allah sendiri.

Memang, aku juga merasakan tidak mudah memegang kemurnian hukum Allah. Ketika Allah sudah bilang “A”, ya sudah itu yang harus kita laksanakan. Tidak ada penambahan atau pengurangan. Karena sejatinya penentu hukum ada di tangan Allah, bukan manusia.

Mungkin ada orang yang bilang, “iya, kita juga para pencari pahala, dan kita nggak ngehalangi orang yang mau pegang prinsip, tapiiii sudahlah, hidup itu dibawa santai aja...nggak usah kaku dan serius kayak gitu”. Eitssss...maaf... siapa bilang hidup itu santai??? Siapa bilang hidup itu tidak butuh keseriusan??? Masalah dosa atau tidak, kelak akan berpengaruh pada masuknya kita ke surga atau neraka yang bahan bakarnya dari manusia yang tidak mau mentaati hukum Allah itu sendiri. Halooo... ada hari pertanggungjawaban bro kelak di Hari Akhir.  Itu masih dibilang hidup itu harus santai? Itu yang namanya hidup tidak butuh keseriusan? Aku pikir statement itu omong kosong.

Yaaahhh... itulah kondisi orang sekarang yang masih belum paham semua hukum Allah. Hukum Allah hanya diambil di satu sisi, tapi di sisi lain hukum Allah tidak dipakai hanya karena menyesuaikan dengan kondisi yang ada, hanya karena biar orang-orang nggak memusuhi dan menjauhi kita. Yaa justru orang yang menjauhi dan memusuhi kita karena mereka tidak paham hukum Allah secara totalitas itu seperti apa. Mangkanya, kita yang sudah tahu dan paham tentang hukum Allah tetap harus dijalankan dengan istiqomahJ

Masalah hukum Allah memang bukan mengenai adu argumen masing-masing otak orang. TAPI INI DALIL DARI ALLAH. Ini loh Allah uda kasih standart mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak:
       Manusia dimintai pertanggungjawaban setelah diutusnya rasul  (QS. Al Isra’ : 15)
       Manusia tidak dapat lagi membantah setelah diutusnya rasul  (QS. An Nisaa’ : 165)
       Setiap muslim wajib menyesuaikan seluruh amal perbuatannya dengan hukum Allah SWT yang dibawa Rasulullah saw.(QS. Al Hasyr : 7)

Tapi sayang, tidak semua orang Islam paham semua dalil-dalil Allah. Mereka seenaknya sendiri menetapkan baik dan buruknya menurut versi mereka.

So... bagaimana... Apakah **** sudah cukup terpuaskan oleh jawaban seperti ini??? Selanjutnya keputusan ada di tangan **** J

Semoga menginspirasiJ  SEMUA KERJA KERAS INI TIDAK AKAN KULAKUKAN KALAU SAJA ALLAH TIDAK MENIMPAKAN BALASAN YANG PEDIH DI HARI AKHIR.


Wassalam...

Kamis, 05 September 2013

Life in The Mission

Wew, sudah 3 minggu vacum. Kalo tiap kali ngucapin kata ‘wew’ selalu inget Njet. Gara-gara dia aku tertular kata-kata itu. Tapi sekarang dia sudah ‘kabur’ dari negara ini karena dia harus belajar jauhhh di sana. Kalo Njet baca tulisanku, salam semangat dan salam perjuangan untuk Njet. Doaku tulus menyertaimu :-) -intermezzo-

Semenjak tanggal 19 Agustus saat pengukuhan (opening ceremony) maba sampai detik ini waktuku full banget. Jadi gelagapan menghadapi waktu yang tak berpeluang ganggur. Maklum, sebelumnya hampir dua bulan setelah kelulusan SMA jobless. Udah gitu, di awal-awal masuk langsung di gembor ama yang namanya ospek. Huh, jadi nggak bergairah menceritakan bagaimana ‘tragedi’ kehidupanku semenjak ospek berlangsung 5 hari. Penuh tipu daya dan muslihat dengan sistem kerja paksa. Memang bukan topik itu yang akan aku ceritakan kali ini.

Tapi semakin hari kemari, aku jadi sudah terbiasa dengan kesibukan yang tiba-tiba datang tak terjadwal. Selain rutinitas di kampus yang ngurusin KRS lah, harus mondar mandir ke kampus untuk melihat pengumuman yang hanya diumumkan di papan pengumuman, dan persiapan-persiapan lain sebelum masuk kuliah tanggal 9 September besok. Aku juga aktif dalam kegiatan dakwah yang sekarang menjadi amanah terbesar bagiku. Karena sejatinya manusia  life in the mission.

Dan kali ini misiku adalah mencari tandatangan sebanyak-banyaknya untuk form petisi  “Seruan Mahasiswa Muslimah Propinsi Jawa Timur, Hentikan Miss World , Ajang Budaya Liberal Perusak Generasi. Wujudkan Generasi Visioner, Mulia, Bermartabat Pemimpin Peradaban.” Judulnya cukup panjang. Tandatangan yang harus ku kumpulkan adalah sebanyak-banyaknya dan disertai dengan dokumentasi pemberi tandatangan.

Awalnya, selintas terbayang misi ini tidak begitu sulit. Hanya  memberikan opini tolak Miss World lalu meminta tandatangan. Memang, mintanya tandatangan tidak sulit. Tapi, meletakkan tangan mereka di atas kertas untuk memberikan tandatangan saja, ckckck tidak jamin. Butuh sekian penolakan untuk mendapatkan sepuluh tandatangan. Belum menawarkan saja sudah kabur duluan orangnya. Ditambah lagi dengan muka-muka yang sensi manis alias sinis saat aku memberikan penjelasan mengenai alasan kenapa harus menolak Miss World. Bahkan wanita yang berhijab pun enggan memberikan suaranya untuk menolak kedatangan Miss World dengan alasan “netral aja deh, nggak ikut-ikutan kayak beginian.” Upsss!

Karena sejatinya ajang ini bukan hanya sekedar brain and behavior. Tapi adanya unsur maksiatullah melalui eksploitasi kecantikan fisik yang hanya dibalut dengan brain dan behavior orang sudah banyak yang tertipu. Apalagi Indonesia sebagai Negara Muslim harus memberikan penyikapan yang tegas dan jelas untuk menolak ajang Miss World. Akan jadi bangsa yang seperti apa jika para Miss Miss dan Puteri Puteri yang seperti itu dijadikan contoh dan icon negara?

Berlomba-lomba untuk menjeniuskan otaknya? I doubt of it. Atau malah berlomba-lomba menampilkan gitar tubuhnya demi memperoleh pujian dari mulut orang? Sepertinya itu kemungkinan besar. Padahal sejatinya itu akan menurunkan harkat dan martabat wanita sesungguhnya. Wanita seperti itu tidak ada mulyanya samasekali. Mereka hanya ‘mulya’ di mata orang yang berduit alias penikmat kepuasan atas aurat mereka. Saat itulah sejatinya terjadi kerendahan taraf berfikir manusia. Wuusshh, ckckck... naudzubillah.

Jadi ceramah panjang lebar tentang Miss World. Tapi memang harus ditolak dan itulah alasan dan penyikapan yang tepat kenapa harus menolak kedatangan Miss World. Semoga sedikitnya bisa memberikan maklumat sekaligus kesadaran bagi yang belum sadar.

Itulah sekilas cerita tentang kesibukanku setelah memasuki dunia kampus. Kita lihat, kejutan apa yang bakal kudapat selanjutnya. Ini masih belum mulai kuliah lhoo... Nantikan tulisanku selanjutnya
:-)


Kamis, 15 Agustus 2013

Suratku untuk Bude

Di suatu pagi tepatnya H+2 lebaran aku main ke rumah bude di Ponorogo. Rumahnya tidak begitu jauh dari rumah kakek nenek. Bisa ditempuh pake sepeda. Bisa dibayangkanlah, bagaimana suasana pedesaan yang di kelilingi oleh sawah dan gunung pasti sejuk dan segar. Rumahnya masih dalam proses pembangunan. Lantai dan tembok masih beralaskan semen yang sebagian belum rata. Kata bude, setidaknya kamar bisa digunakan untuk tidur maka sudah sah untuk ditinggali. Yah, meskipun kaca cendela belum ada, bangunan lantai dua malah belum ada pintu dan cendela. Padahal laptop, iPhone, dan barang-barang berharga lainnya ada di kamar. Dan dengan entengnya bude meninggalkan rumah untuk berkunjung ke rumah tetangga dan membiarkan rumah tanpa penghuni (jgn salahkan maling bertamu, heheh).

Sebenarnya tujuanku datang ke rumah bude hanya buat habisin novel yang tebelnya 390an halaman. Habisnya di rumah kakek nenek banyak saudara yang kumpul termasuk abah, ibuku, dan adik-adikku. Tanpa ada yang mengganggu, aku duduk di teras dengan buku di tangan. Tiba-tiba bude mendekatiku lalu bercerita panjang lebar. Curhat mendadak. Di sini aku nggak bisa menceritakan apa yang bude ceritakan kepadaku. Terlalu terbuka. Pokoknya sesuatu tentang keluarganya, a problem.

Dan yang aku herankan kenapa bude bercerita itu kepadaku. Akukan masih ‘kecil’ (eitsss...). Maksudnya apa yang diceritakan bude itu masih belum menjadi duniaku saat ini. Ya begitulah... Mungkin itu sudah waktunya meledak dan tidak bisa dibendung lagi. Jadinya aku binggung mau ngasih solusi yang sesuai Islam. Tapi akhirnya itu menjadi motivasi bagiku untuk semakin mendalami segala macam sisi dari apa yang sudah diajarkan dalam Islam. Meskipun saat ini masalah itu tak mungkin terjadi padaku, kecuali beberapa tahun ke depan dan pastinya setelah aku menikah. But it’s out of my wish, naudzubillah.

Aku jadi sedih tidak bisa memberikan solusi yang pas buat bude. Serasa useless person. Meskipun sempat berkata sekata dua kata tapi aku tidak puas dengan jawaban yang kuberikan. Setidaknya aku sudah mencoba.

Setelah pembicaraan selesai aku berpikir, enaknya apa yah yang bisa aku berikan kepada bude...

SURATKU UNTUK BUDE...

Budeku tercinta yang insyaAllah dirahmati Allah. Ini ada sedikit penyejuk dariku lewat tulisan ini. Semoga bisa memberikan senyuman di wajah Bude dan bisa meningkatkan keimanan Bude kepada Allah. Sebenarnya tulisan yang aku buat ini juga menjadi intropeksi bagi diriku pribadi. Tapi subjek yang aku buat di sini sebagai ‘Sang Penulis’. Sekaligus doaku kelak untuk menjadi penulis best seller. Heheh... amin...

Ada satu keyakinan yang juga menjadi pelajaran buat sang penulis untuk diyakini, bahwa setiap masalah pasti PUNYA jalan keluar kecuali KEMATIAN. Siapa bilang masalah semanis saat kita mendapat sebuah mobil atau rumah mewah? Semua orang tahu bahwa masalah adalah PAHIT. Tapi tidak semua orang tahu bahwa kemarahan bukan satu-satunya obat. Sakit...jengkel...memang iya. Kebanyakan mereka lupa akan arti KETULUSAN dan KEIMANAN.

Saat mereka berkata terhadap masalah,

"Wahai masalah sekarang aku sudah tulus dan sabar menghadapimu, kemarin aku juga sudah tulus dan sabar mengobati lukamu. Tapi detik ini kesabaranku mulai habis. Aku tak tahan lagi. Aku sudah berusaha sabar dan mempunyai niat baik, percuma tetap saja masalah itu ada malah makin besar."

Dan sampai hari-hari berikutnya ia sudah bosan dengan ketulusan dan kesabaran. Ia sudah muak dengan masalah yang bertubi-tubi menimpanya. Lebih mengikuti hati yang selalu membenarkan dirinya tanpa melihat akar penyebab permasalahan terjadi.

Yang menjadi pertanyaan, apakah seperti itu arti ketulusan dan keimanan? Ketulusan tidak mengenal sekali, dua kali. Dia butuh kesetiaan sepanjang masa. Dan kesetiaan tidak akan bisa dijalani tanpa keimanan dalam.

Memang tidak ada yang menjamin permasalahan itu selesai begitu saja saat ketulusan dan keimanan sudah dimiliki, kecuali Allah. Saat kemarahan muncul itu wajar. Tapi ingatlah bahwa Allah tidak akan ridho dengan segala sesuatu yang diselesaikan dengan amarah.

Ketika ketulusan dan keimanan sudah menyatu, mulut dan sikap kita akan dituntun olehNya untuk menuju kebaikan. Allah sudah menentukan jalan hidup manusia. Dan pastinya Allah sudah menyiapkan dan menawarkan solusi terbaik atas kebelitan hidup yang takkan pernah disangka oleh manusia. Namun, secara tak sadar kebanyakan manusia terkadang justru menghindar dari solusi itu karena sudah terlanjur terbalut oleh kebencian dan amarah.

Mungkin sang penulis tidak memiliki masalah yang Anda hadapi dan pastinya tidak bisa membayangkan bagaimana sang penulis juga bisa menghadapi saat ia mendapatkan masalah seperti Anda. Tapi sang penulis yakin tidak ada masalah yang hebat kecuali KemahaperkasaanNya karena sejatinya raga dan hidup ini ada yang menciptakan dan ada mengatur. Dan juga sang penulis ingin menuntun cara berfikir Anda untuk menaklukkan masalah dengan keimanan kepada Allah. Terus meneruslah dekat denganNya karena dengan kedekatan denganNya tiap keluh kesah yang keluar dari mulut akan terjawab.

Bagaimana Allah akan mendengar sebuah doa jika hambaNya saja masi enggan untuk melaksanakan syariatNya?

Jangan pernah berkata masalahku sangat besar dan tidak ada solusi. Tapi baliklah perkataan Anda, wahai masalah Allah Maha Besar dan Berkehendak atas segala sesuatu.

Mungkin itu yang bisa aku kasih ke Bude. Maaf, barangkali ada salah kata. Tak lain niatku hanya ingin membantu memberikan senyuman tulus kepada Bude untuk menghadapi kehidupan yang serba liku. Dan tak lain aku sayang Bude karena Allah. Karena dengan hubungan antara 2 orang atau lebih berlandaskan cinta karena Allah, Ia akan memberikan keridhoan sepanjang hubungan tersebut J


Salam semangat untuk Bude JJJ

Jumat, 02 Agustus 2013

List Impianku Setahun Lalu


Beberapa hari lalu iseng bukain binder bekas SMA dulu. Kubuka perlembarnya dan kutemukan INI... Ternyata masih ada. Aku lupa kalau aku pernah melakukan ini. Sesuatu yang terjadi setahun lalu. Mengingatkan apa yang pernah kutulis saat aku di kelas 12 six sense menunggu kedatangan guru masuk kelas. Tepatnya hari kamis 26 Juli 2012 (hari ke-7 bulan Ramadhan) pukul 11:25. Aku duduk di lantai memegang binder dan pensil menuliskan sebuah impian yang hendak kucapai kelak saat aku lulus.

Ya Allah, saksikanlah...
Kelak di umurku ke-18
Aku akan masuk jurusan
PSIKOLOGI... FISIOTERAPI...
Or... FARMASI UNAIR
Tolong saksikan MIMPI BESARKU
Ya Allah...
Tertanda
Tekadku

AZIMATUR ROSYIDA

Beberapa menit kemudian, kegalauan muncul. Jadi psikolog iya nggak yah? Bisa nggak yah? Akhirnya aku putuskan,
Ya Allah, saksikanlah...
Kelak di umurku ke-18
Aku akan masuk jurusan
PSIKOLOGI... FISIOTERAPI...
Or... FARMASI UNAIR
Tolong saksikan MIMPI BESARKU
Ya Allah...
Tertanda
Tekadku

AZIMATUR ROSYIDA

Psikologi aku contreng dari list impianku. I doubt it. Lalu setahun kemudian sebelum pengumuman penerimaan mahasiswa baru di PTN yang aku impikan, aku memutuskan untuk menghapus fisioterapi dari list impian karena ternyata saat aku memilih jurusan yang ingin aku tujuh aku tidak memasukkan fisioterapi dalam pilihan jurusan. So, tidak mungkin aku akan menjadi ahli fisioterapi.

Ya Allah, saksikanlah...
Kelak di umurku ke-18
Aku akan masuk jurusan
PSIKOLOGI... FISIOTERAPI...
Or... FARMASI UNAIR
Tolong saksikan MIMPI BESARKU
Ya Allah...
Tertanda
Tekadku

AZIMATUR ROSYIDA

Jadinya ada dua contrengan di kertasku. Hanya tinggal satu yang ingin dan harus aku capai. FARMASI. Entah kenapa semenjak 3 tahun di SMA aku sudah membayangkan akan memasuki jurusan itu. Ya begitulah, terkadang untuk menyukainya tidak butuh alasan. Awalnya aku mengidamkan jurusan kedokteran. Lambat laun sepertinya Allah semakin memantapkan pilihan yang sesuai denganku. Sudah kucuba menyesuaikan suara hati dengan pilihan kedokteran. Tapi apa mau dikata keduanya tidak bisa menyatu dan semakin jauh. Bahkan untuk menjawab ‘aku ingin masuk kedokteran’ saat seseorang bertanya kepadaku jurusan apa yang hendak aku pilih saat lulus, berat dan keraguan muncul. (seingatku) Akhirnya aku tidak pernah memasukkan pilihan kedoteran dalam list impian.  


Saat aku melihat lembaran ini senyuman mengembang di wajahku. Seakan tak percaya satu mimpiku ini telah teraih, dream comes true. Alhamdulillah. Mimpi yang kubangun 3 tahun yang lalu. Unbeliveble. Dan insyaAllah aku siap menyambut tanggal 19 Agustus 2013 untuk pengukuhan sebagai maba Farmasi Unair. ;-)

Jumat, 19 Juli 2013

Ada yang Serba Ungu-Ungu nih dari Bang Felix...


Yuk, Behijab!

Baru beli di bulan pertama penerbitan, Juli 2013 dan masih baru cetakan pertama. Penerbit Mizania.
Awalnya waktu pergi ke toko buku Togamas aku berniat beli buku Rantau 1 Muara. Eh waktu mata ngelirik kanan kiri ngeliat ada buku ini. Beli deh. Padahal tadi sebelum berangkat izinnya ke ibu cuma beli satu buku. Pulang-pulang bawa 2 buku dan habisin lembaran merah pula. Hiks...hiks...

Satu keuntungan di Togamas yang nggak pernah kalian temuin di toko buku lain (kali’...) adalah diskonnya. Di Togamas rata-rata semua bukunya diskon 25%. Harga asli buku ini 52.000 didiskon 15%, jadinya cuma 44.200. Seruuu... Kok, jadi promosi yah...

Ok, let’s check it out...

Secara global buku ini menjelaskan tentang kewajiban menutup aurat yang SYAR’I bagi Muslimah. Berkerudung dan menutupi seluruh aurat, kebanyakan wanita Muslim pasti sudah tahu. Tapi, tidak banyak wanita Muslim yang tahu bagaimana cara menutup aurat yang benar sesuai perintah Allah dalam al-Quran. Jangan pikir dengan menutupi seluruh aurat berarti sudah memenuhi persyaratan dalam Islam. Yang nutup aurat ala body-lah (body press), yang pake kerudung ala punuk unta-lah (nonjol-nonjol di kepala), yang pake make up warna warnilah di muka.  Masih ada beberapa ketentuan penting lainnya yang wajib dipenuhi pula. Bila tidak, murka Allah akan selalu terbuka untuk kita. Na’udzubillah...

Lagian buku ini insyaAllah akan sangat menarik untuk dibaca karena desainnya mirip komik dan full color. Visualisasinya keren abizzz... Dan di setiap lembarnya selalu ada kejutan gambar yang seru dan lucu.

Mangkanya buruan baca sebelum murka Allah datang dan kita bisa segera bertaubat setelah mengetahui kebenaran dariNya. Dan supaya kita bisa menjadi Muslimah sejati yang taat terhadap segala ketentuan dan peraturan dari Allah. InsyaAllah Surga akan teraih. Aminnn... ;-)

Rabu, 17 Juli 2013

‘LUCUNYA’ DAKWAH DI KAMPUS UNAIR. Hiks... hiks...

Semoga pengalaman ini bisa semakin menghidupakan dakwahmu di kampus...


Ceritanya berawal daftar ulang calon mahasiswa baru (maba) yang berlangsung tanggal 16-17 Juli kemarin di Universitas Airlangga. Alhamdulillah, tanggal 8 Juli adalah tanggal ditetapkannya takdirku menjadi calon  mahasiswa baru di UNAIR di fakultas farmasi dengan prodi S1 pendidikan apoteker. Predikat mahasiswaku tidak akan lengkap tanpa daftar ulang yang berlangsung di gedung ACC UNAIR. So, tanggal 16 sangat kutunggu-tunggu.

Nggak kebayang gimana lamanya daftar ulang yang harus menampung ratusan calon maba. Pasti banyak waktu yang kebuang di sana kalau kita nggak punya ide untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan pahala apalagi di bulan Ramadhan. Nah, kalau udah ngaku pejuang Islam ideologis penerus pejuangan rosul pasti akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk saling share tentang Islam kepada teman-teman yang baru dikenal.

Sebelum daftar ulang berlangsung, aku bertemu dengan beberapa kakak angkatan yang betul-betul memahami Islam dan beberapa dosen ideologis juga. Di situ kita membahas tentang kegiatan yang bakal dilakukan saat daftar ulang calon maba berlangsung. Akhirnya, kami memanfaatkan waktu itu untuk berinteraksi dengan calon maba sekalian sebar opini tentang berbagai macam fakta kerusakan sekarang sekaligus dimintai no telpon barangkali bisa diajak ke kegiatan kajian Islam lain waktu.

Ternyata rencana kami sudah di dengar oleh anggota BEM yang juga ditugasi untuk menjadi panitia penerimaan calon maba. Jadi kendali penuh daftar ulang calon maba ada di tangan mereka. Anak BEM sangat ‘berhati-hati’ dengan kegiatan yang bakal kami lakukan saat daftar ulang calon maba karena mereka menganggap kami akan menyebarkan ide-ide kepartaian, brand washing, dan segala macam isu-isu negatif tanpa pembuktian. Wew, dugaannya nyeleneh dan jauh banget dari faktanya. Kami loh tidak melakukan apa-apa dan tidak se-extrim itu. But, no prob, kami akan terus melakukannya.

Hari Pertama Daftar Ulang, 16 Juli 2013

BEM sudah bersiap-siap mengerahkan anggota-anggotanya untuk mengantisipasi masuknya kakak-kakak mahasiswi yang mau masuk ke pintu masuk pendaftaran karena anggota BEM sudah tahu maksud kedatangan mereka kemari. Apalagi penampilan kakak-kakak mahasiswi yang menggunakan kerudung dan jilbab pasti akan sangat mudah dikenali.

Saat aku memasuki pintu masuk pendaftaran, sepertinya anak BEM mulai mencurigaiku karena aku memakai kerudung dan jilbab. Tapi beruntung, di belakangku ada ibu yang menemani dan beberapa dari mereka sudah tahu kalau beliau dosen di UNAIR. Jadi, mereka tidak mau bertindak macam-macam. Heheh. Lantas gimana kakak-kakak mahasiswi yang lain? Mereka bisa masuk nggak yah?

Tapi alhamdulillah, saat aku mencari tempat tangga duduk yang kosong aku melihat beberapa dari mereka berhasil masuk tanpa dicurigai oleh pihak BEM. Dan beberapa dari mereka juga sudah mulai berbincang-bincang dengan calon maba. Pasti calon maba juga seneng kalo didekati sama kakak angkatan ;). Di depanku beberapa anak BEM berjalan mondar-mandir terlihat seperti mengawasi kami-kami. Nggak lama kemudian, aku melihat mbak BEM tiba-tiba naik ke tangga. Dan saat aku lihat arah jalannya menuju ke salah satu kakak mahasiswi yang menggunakan jilbab yang lagi berbincang-bincang dengan calon maba. Wah, apa gerangan yang terjadi? Jangan-jangan? Dan ternyata betul seperti dugaanku, kakak itu langsung di suruh keluar oleh mbak BEM. Ya Allah, sebegitukah? Emangnya anggota BEM tahu betul apa yang kami lakukan. Orang kami juga hanya mengajak kenalan dan berbincang-bincang mengenai kemahasiswaan. Barangkali dari situ kami bisa memberikan motivasi kepada calon maba. Lagian kalau mereka menganggap kami menyebarkan ide-ide Islam yang brand washing, mananya yang brand washing? Kalian dan kami adalah orang Islam. Ngajak ngaji Islam aja udah dicuragai yang nggak-nggak. Pliss deh, kalian Muslim nggak sih. Mengaku Muslim tapi malah menghalangi aturan Allah disebarkan. Ckckck... nggak habis pikir apa yang ada dipikiran mereka. Dosa loh...

Kalau aku sih alhamdulillah aman-aman aja, jauh dari incaran anak BEM. Jelaslah, akukan calon maba. Jadi, aku bisa mendapatkan banyak kenalan meskipun cuma tiga anak dan sekalian diskusi tentang sistem pendidikan sekarang yang berorientasi duit. Tuh kan, nggak aneh-aneh, nggak seperti yang ada di bayangan mereka, anak-anak BEM. Mangkanya jangan su’udzon dulu to mas mbak BEM... mbo’ ya tabayyun.

Hari Kedua Daftar Ulang, 17 Juli 2013

Nah, di hari kedua ini kisahnya baru sesuai dengan judulnya ‘Lucunya’ Dakwah di Kampur UNAIR. Kalau di hari pertama tadi bisa dilucu-lucuinlah...

Hari ini aku ke tahap daftar ulang selanjutnya yaitu pemeriksaan kesehatan di rumah sakit UNAIR jam 8 pagi. Setelah selesai di cek pendengaran dan penglihatan sama dokter-dokter muda aku kembali menuju ke gedung ACC UNAIR karena di sana kegiatanku masih berlanjut. Cari kenalan baru lagi... Sebelum sampai sana aku sms ke teman SMP yang kebetulan juga diterima di UNAIR namanya Saffanah sekaligus teman seperjuanganku.

Zizi: Eh, km  msh d dlm?

Saffanah: Iy, km mau masuk?

Zizi: Iy, ni td hbs pemeriksaan

Saffanah: Oke. Kakak2nya ndak bisa masuk deh kayaknya. Byk anak BEM

Zizi: O gtu. Ak blh msk g yah?

Saffanah: Hoho gatauu, cobaen aja

Kan sebenarnya waktu daftar ulangku sudah selesai kemarin, kira-kira bisa masuk nggak yah sekarang. Ya dah, coba aja, bismillah. Sepertinya penjagaan dari anak-anak BEM lebih ketat daripada kemarin. Sesampainya aku di pintu masuk pendaftaran, tiba-tiba mas BEM menghadangku di tengah pintu. Seperti kriteria yang patut dicurigai, pake kerudung dan jilbab.

Mas BEM: “Ini mau ngapain? Pengantar atau..”

Zizi: “Aku maba mas...”

Mas BEM: “Oo, ya udah silakan masuk”

Dasar anak-anak BEM, mentang-mentang aku pake jilbab langsung aja dicurigai yang nggak-nggak. Saat aku menaiki tangga duduk aku bertemu dengan bu Ami, ibunya Saffanah yang kebetulan juga dosen fisika di UNAIR. Kita bertiga duduk bareng dan berbincang-bincang.

Bu Ami: “Saya tuh heran dengan anak BEM. Mau mereka itu apa? Andai kalau mereka tahu apa yang kita perjuangkan ini untuk Islam dan mereka menghambatnya, dosa besar itu. Sebenernya apa sih yang ada di benak mereka?”

Saffanah: “Iya barusan aku juga ngeliat ada salah satu kakak UNAIR yang juga di deketin ama mbak BEM terus langsung di suruh keluar.”

Setelah itu kami bertiga berpencar mencari kenalan calon maba. Saat aku berbincang-bincang dengan teman baruku lagi-lagi aku melihat mbak BEM sedang mengawasi sekitar. Pandangannya menuju ke atas ke arah bu Ami dan langsung menghampiri. Tapi dia tidak langsung menegur bu Ami. Dia duduk di belakang beliau. Secara gitu, bu Ami kan dosen dan tidak berpenampang seperti mahasiswa. Sepertinya sebelum melakukan aksinya dia berpikir-pikir dulu sambil mengawasi. Takut salah target kali...

Dan alhamdulillah, akhirnya hari ini aku bisa dapat 2 kenalan. Salah satunya juga sama-sama anak farmasi dari Malang.

Sampainya di rumah aku menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada ibuku. Ternyata ibuku juga punya cerita yang nggak kalah seru. Kebetulan tadi ada salah satu teman ibu berinisial pak M yang anaknya juga daftar ulang hari ini. Beliau seprofesi dengan ibuku sebagai dosen matematika.

Pak M bercerita kepada ibu dengan kondisi marah, “Tadi saya mengantarkan anak saya daftar ulang karena sempat ada beberapa masalah dengan NIMnya. Lah, waktu saya masuk ke gedung tiba-tiba ada anak BEM hadang saya dan tanya sedang apa bapak kemari, kalo tidak berkepentingan dilarang masuk. Berani-beraninya. Saya ini dosen di sini anak saya sedang ada masalah di dalam. ‘ooh... gitu pak, ya, ya, silakan masuk pak’. Andai dia tahu kalo aku barusan naik tensi bu, dia nggak bakal berani hadang saya kayak gitu. K****G A**R itu...”

Aku langsung tertawa saat ibu menceritakannya. Akhirnya dia bisa merasakan ulahnya sendiri. Salah sendiri siapa suruh berantisipasi tinggi terhadap semua orang yang masuk gedung. Kena makan dosen kau... Lah sekarang pertanyaannya, yang bikin ketidaknyamanan siapa? Yang bikin kegaduhan siapa? Yang jadi ‘badan intelejen’ siapa? Yang jadi mata-mata siapa? Jelas-jelas orang bisa bebas keluar masuk, siapapun berhak masuk. Lah kok aneh-aneh, pake ditanya-tanyain segala. Giliran yang kena dosen, mau apa? Orang berbuat sesuatu karena Allah kok dihambat. Jangan berani-berani dengan Allah.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (TQS. Ar-Rum [30]:7)

“Dan orang-orang yang mencurahkan kemampuannya semata-mata karena Kami.” (TQS. Al-Ankabut [29]:69)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (TQS. Muhammad [47]:7)