Rabu, 17 Juli 2013

Hampir Menuju 100% Jadi Mahasiswa

Inilah jawabannya...

Alhamdulillah, setelah sekian lama impian ini terpendam selama 3 tahun. Akhirnya berbuah juga. Insya Allah aku hampir dinyatakan 100% menjadi mahasiswa S1-Farmasi UNAIR karena hari ini aku sudah melewati daftar ulang, yeeee...  meskipun sebenernya lamanya daftar ulang nggak keitung karena aku harus antri di 5 loket A-E. Untuk melengkapinya menjadi 100% aku harus melewati ospek dulu baru bisa dibilang mahasiswa farmasi UNAIR. Tapi gitu-gitu aku udah kepedean ganti profil studi di fb focus on Faculty of Pharmacy at Airlangga University. Heheh, but no prob. Lagian sebenarnya aku sudah dinyatakan sebagai mahasiswa di UNAIR, kan aku uda punya NIM. :-) Judulnya juga nggak gitu-gitu amat sih sebenernya.

Mungkin temen-temen yang udah diterima di PTN pasti ngerasain gimana proses pengumpulan data saat daftar ulang yang ribetnya minta ampun. Sampai segala macam kertas yang mencantumkan kekayaan kita harus di upload, kayak rekening tagihan air, rekening tagihan listrik, rekening pajak, luas tanah, daftar gaji orang tua perbulan, dan yang sejenis itu. Setelah 2 hari lamanya baru bisa selesai semua, mana saat proses pengiriman data koneksinya lola banget pula. Jadi merasa terganggu dan kurang khusu’ melaksanakan ibadah puasanya. Tapi alhamdulillah bisa selesai juga dan jadwal untuk daftar ulang akhirnya muncul, tanggal 16 Juli 2013, jam 08:30.

Pagi ini aku sudah menyiapkan diri tepat waktu dan datang tepat pukul 08:30 sesuai jadwal. Kupikir aku bakal dapat no urut depan, ternyata jauh dari dugaan aku dapat no urut 248. Dan saat itu yang baru dipanggil baru no 1-25. Wew… bakal ngapain nih sambiil nunggu dipanggil petugas. Aku manfatin aja buat kenalan ama maba yang lain sekalian ngajak mereka diskusi tentang sistem pendidikan sekarang, pasti bakal nyambung. Dia sendiri juga ngerasa kalo sistem pendidikan sekarang berlandaskan materialistik. Buat dapetin satu kursi di PTN yang diinginkan aja bisa ngeluarin ratusan juta kalo ternyata dari sisi akademiknya jelek dan susah cari PTNnya. Sistem pendidikan dijual dengan uang? Macam apa itu? Tapi aku sih belum sampai menjelaskan sampai ke solusi Islam soalnya setelah diskusi aku baru tahu kalo dia Kristen. But it’s ok, bertahap. Kan Islam juga agama yang menaungi seluruh umat manusia.

Kembali lagi… Dan akhirnya sekitar pukul 12an no urut 226-250 dipanggil untuk menuju ke… (kita liat, hampir ada masalah di tiap loket)

Loket A. Di loket A ada sekitar 6 petugas kalo nggak salah yang mengecek kelengkapan data calon maba. Dan asemnya, kebetulan aku kedapetan antrian barisan yang petugasnya lama banget ngecek data calon maba dibanding petugas lain. Temen-temen di barisan sebelah kanan kiriku sudah maju lima kursi sedangkan aku masih stagnan di tempat dudukku. Akhirnya, it’s my time. Sebelumnya aku sudah mengecek kelengkapan data-dataku dan aku percaya tidak ada yang kurang karena sudah sesuai dengan persyaratan. Tapi eh tapi, tanpa pemberitahuan sebelumnya tiba-tiba petugas meminta fotokopi KK. Padahal jelas-jelas tertera dipersyaratan nggak disuruh fotokopi KK. Dan akhirnya orang tuaku bela-belain pulang ke rumah lagi buat ambil KK. Ckckck…

Loket B. Loket tempat verifikasi sidik jempol. Lagi-lagi masalah datang lagi. Secara gitu, yang namanya auditorium UNAIR itu gede, luas, dan pasti ber-AC. Itu yang membuat masalah karena telapak tanganku jadi kering kerontang sampai kayak kulit nenek-nenek ditambah tubuh dalam kondisi kekeringan karena puasa. Jadinya sidik jempolku tidak terdeteksi dan solusinya harus dibasahi. Namanya juga bulan puasa pasti nggak ada air minum dong. Satu-satunya solusi aku harus ke kamar mandi dan lokasinya lumayan jauh dari loket B. Tadinya sih aku berencana melakukan hal jorok, heheh. Coba tebak apa… iya, dikasih air ludah. Tapi itu nggak bakal aku lakuinlah #gilani. Saat kembali dari kamar mandi aku harus antri lagi untuk mendapatkan giliran.

Loket C. Ini loket yang aku tunggu-tunggu. Sebenernya semua loket juga butuh penungguan. Tapi yang ini beda soalnya di loket ini aku akan memilih ukuran jas almamater yang akan aku pakai saat kuliah nanti. Jadi merasa berbangga diri akan menjadi mahasiswa, eh mahasiswi sungguhan. Aku dapat ukuran M. Dan aku juga mengukur topi, entah topi apa itu namanya, agak aneh bentuknya.

Loket D. Kalo di loket C sih memang nggak ada masalah. Di loket ini pengambilan foto calon maba buat kartu mahasiwa. Kerudungku kontrol nggak yah? Wih.. pake jas almamater juga fotonya! Cekrik… dan saat aku lihat hasilnya mataku mengkerut. Hah… jelek banget hasilnya. Ini fotokan buat seumur hidup jadi mahasiswi. Perasaan dari dulu tiap kali foto buat jangka panjang entah KTP, paspor selalu un control. Ya sudahlah…

Loket terakhir… Loket E. Di sini calon maba akan diberikan jadwal untuk tes kemampuan dan tes B.Inggris (TOFEL).  

Setelah itu, it’s time to open rekening. Ini juga waktu yang aku tunggu karena aku akan mendapatkan rekening tabungan baru dan pertamakali dan ATM privacy. Selama ini sih kalo transfer uang masih atas nama abahku. Dan sekarang aku akan mendapatkan ATM atas my own name.


Dan akhirnya sekitar pukul 1 siang aku bisa meninggalkan auditorium dan pulang. Tapi sebelumnya aku sempet mampir dulu ke stand anak farmasi buat tanya-tanya tentang ospek dan mengisi form sekalian kenalan ama kakak-kakak angkatan, meskipun sebenernya aku ama mereka seumuran sama-sama lahiran 94. Sebenernya ada keanehen yang terjadi. Kebetulan saat aku ke stand tersebut aku membawa adikku berumur 5 tahun karena ibu menitipkannya padaku sebentar. Masak waktu aku ngajak adikku aku dibilang ibunya. Wew yang bener aja, gua kakaknya. Nggak keliatan muka semuda ini ala mahasiswa. Waktu aku cerikan hal itu  kepada ibuku, ibuku ngakak abis. Dan parahnya lagi ibuku juga pernah dibilang orang nenek-nenek soalnya bawa anak kecil umur 5 tahun. Ckckc... Dunia sekarang memang aneh.






21:30/16-07-13/Selasa/Daftar Ulang

Minggu, 07 Juli 2013

PLAN B TERLAMPAUI, AKHIRNYA...

Dag dig dug... tinggal 19  jam 14 menit lagi batas penantian akan berakhir. Semoga sesuai dengan harapanku.

Tadi pagi aku mengikuti tes ujian mandiri di UNAIR kampus B. Jujur, aku samasekali tidak tegang menghadapinya. Bahkan aku menganggapnya hanya ‘main-main’. Kalau dibanding dengan perasaanku saat mengikuti tes SBMPTN jauh lebih wow dag dig dugnya dan lebih tegang. Gimana tidak. Jelas-jelas biaya pendidikan kuliah melalui jalur SBMPTN lebih murah dibanding jalur mandiri. Mana tes mandiri yang aku pilih UNAIR pula, yang katanya hanya satu-satunya PTN yang mengenakan UP mahal. Jelas aku tidak berharap bisa masuk melalui jalur ini. Buat jaga-jaga aja sih, barang kali ada something unpredictable yang tiba-tiba terjadi. Dan mungkin dengan aku mengikuti jalur mandiri ternyata itu jalur yang terbaik buatku. But, I don’t know, actually it’s not my wish. I just try and take a chance.

Sebenernya tadi pagi yang membuatku bĂȘte. Jelas-jelas di kartu identitasku ujian mandiri akan dimulai pukul 08.00 dan peserta dihimbau untuk hadir 30 menit sebelum ujian dimulai untuk pengecekan ruangan. Aku sudah mempersiapkan diriku lebih awal, bahkan sekitar 45 menit aku sudah tiba di tempat. Eehh, ternyata saat aku menaiki tangga menuju lantai tiga di gedung FISIP, suasana sudah sangat sepi. Gimana nggak shock… Saat aku menemukan ruanganku 308 dan aku membuka pintu, semua peserta sudah duduk rapi dan sudah melingkari bulatan-bulatan di lembar jawaban. Jadi heran ama sistem waktu orang Indonesia, unpredictable… kadang suka telat. Tapi giliran in time, kebablasan sampai-sampai sudah mulai duluan sebelum jadwal yang ditetapkan. Jadi bikin pikiran kacau. Tapi secepat mungkin aku bisa menangkalnya.

Dan kali ini aku bisa bangga pada diriku sendiri karena manajemen waktuku bagus dalam mengerjakan soal. Aku berhasil mengerjakan soal yang aku bisa sampai waktu habis. Yah, meskipun sempet kelewatan 2 soal yang belum aku baca sih. But over all, it’s ok. Ketimbang saat aku mengikuti SBMPTN. Bahkan menit-menit sebelum bel, aku belum memulai mengisi lingkaran. Parah… tapi, itu sudah berhasil aku atasi dan jadinya pasti ngos-ngosoan.

Aku benar-benar enjoy mengikuti ujian mandiri ini. Saat ujian mandiri berlangsung otakku tidak sepenat dan sekaku saat mengikuti SBMPTN. Karena aku menganggap aku tidak harus memenuhi tuntutan untuk masuk melalui jalur mandiri. Jadi benar-benar bisa merasakan bedanya saat otak dipaksa untuk tidak tegang dengan otak yang dengan sendirinya merilekskan diri. Kata ibuku, jangan tegang anggap aja main-main. Lagian kamu juga udah keterima di SBMPTN. Amin… Kata-kata itu lumayan manjur juga untuk melunakkan otakku.

Ah, insyaAllah dah. Don’t talk about ujian mandiri. Aku yakin aku bisa diterima di SBMPTN. Kita lihat saja apa yang terjadi 19 jam ke depan. InsyaAllah, aku sudah berusaha memaksimalkan usahaku untuk memperoleh apa yang aku impikan. Aku yakin Allah sudah mempersiapkan yang terbaik buatku dan pastinya untuk jalan dakwah ini. –,<

Oh y, tadi juga ada kejadian yang hampir membuatku menangis, lebih ke mewek sih sebenernya, nggak sampek mengeluarkan air mata kok. Saat keluar dari ruangan 308, aku menyengajakan diri untuk tidak langsung pulang. Duduk di koridor bentar sambil baca koran dan nungguin parkiran yang ramai motor keluar. Udah sepi, aku langsung beranjak ke parkiran. Pake slayer, kaos tangan, helm, dan… OH GOD… TIDAK… DI MANA KUNCI MOTORKU??? Aku obrak-abrik tasku barang kali terselip. Padahal tasku kecil dan hanya ada 1 kantong besar dan 1 kantong kecil. Sebenernya cuma dilihat aja tanpa diobrak-abrik bisa keliatan di situ ada kunci atau tidak. Gantungan kuncinya besar bertali. Masalahnya, itu motor yang kupakai bukan motorku. Itu motor pinjaman. Kalau motorku juga bakal masalah sih. Oh tidak, what should I do. Aku berpura-pura menampakan wajah setenang mungkin karena aku tidak ingin orang bisa membaca wajahku yang lagi kehilangan barang lalu mereka juga akan meributkan kunciku yang hilang.

Aku kembali menelusuri jalan yang aku lewati. Tapi tidak ketemu. Ya Allah gimana nih. Nggak mungkin aku menghilangkan kunci yang bukan punyaku. Kalangkabut… Tapi aku yakin pasti ada jalan, pasti. Tiba-tiba terlintas ingatan. Perasaan aku tadi samasekali tidak memasukkan barang kecuali slayer dan kaos tanganku ke dalam tas. Apa jangan-jangan… akhirnya aku langsung menghampiri petugas parkir dan menanyakan kunciku. Perasaanku lega ketika mendengar petugas menjawab, “ooo, yang ada talinya panjang itu yah?”

Alhamdulillah, meskipun belum pasti itu punyaku atau bukan setidaknya berpeluang besar kalau kunci itu pasti punyaku. Dan ternyata betul. Huh… bisa pulang deh tanpa membawa masalah. So, NOTE: Jangan bertindak ceroboh dalam kondisi apapun.

Senin, 01 Juli 2013

My Master Plan

Rencana Masa Depan:

TAHAP PERTAMA: SBMPTN. Target: Farmasi-UNAIR, FKM-UNAIR, Tekpang-IPB. I'm waiting for U
- Pengumuman: 12 Juli 2013

PLAN B: ikutan PPMB UNAIR (Farmasi), insyaAllah segera daftar.
- Pendaftaran: sd 3 Juli 2013 (300.000)
- Ujian: 7 Juli 2013
- Pengumuman: 15 Juli 2013
- Registrasi MaBa: 29-31 Juli 2013

PLAN C: ikutan SPMK UNIBRAW (Farmasi). Daftarnya bisa nungguin pengumuman SBMPTN dulu. 
- Pendaftaran: sd 14 Juli 2013 (500.000)
- Ujian: 18 Juli 2013
- Pengumuman: 23 Juli 2013


(175.000+300.000+500.000=975.000. Gila... buat daftar doang, udah habisin hampir sejuta, ckckck)

Kalau dari ketiga plan kagak keterima juga (mati aja...!!!). Nggaklah, seorang Muslim sejati nggak boleh patah hidup dong. STRONG WILLING & STRONG FAITH, that's the key to reach my future. Always be positive. Allah knows the best for me. Wish me luck...

And... Harapan terakhirku dari yang paling akhir...

Rabu, 08 Mei 2013

Aku Mendapatkannya Lagi...



Aku mendapatkan buku ini tanggal 26 April 2013 waktu aku pulang kampung ke Surabaya. Awalnya aku berniat membeli buku ini karena buku ini memang dijual. Tapi ternyata, buku ini secara cuma-cuma langsung diberikan kepadaku. Alhamdulillah, yang namanya rizki nggak bakal ke mana. Sampai-sampai aku menandai buku ini from precious someone, karena yang memberikan buku ini adalah salah satu teman ibuku.

Tekadku dalam Pencarian

Saat ini aku sedang menghadap sebuah layar. Memainkan jemari memilih satu per satu huruf untuk menyusun kata-kata sebagai bentuk pengabadian akan sebuah kisah.

Sebuah kisah yang disetiap harinya adaah kejutan, setiap jamnya adalah perjuangan, setiap detiknya adalah persaingan, dan disetiap pengalamannya adalah renungan dalam kesunyian. Itulah yang pertamakali muncul di benakku setelah mengambil kesimpulan dari semua ini.

Berawal dari sebuah malam. Dalam kesendirianku hanya ada aku dan Dia. Aku merangkum segala kejadian yang telah terjadi. Tanpa sepatah katapun terucap dari mulut, aku yakin Dia tahu segalanya. Diam terpanah dalam kegelapan dengan granule-granule cahaya yang tak jelas karena mata ini sengaja kututup. Seakan mata inipun tak kuasa melihat apa yang diri ini perbuat. Itulah titik di mana aku merasa menjadi manusia yang paling hina dengan segala kesombongan yang aku lakukan. Tapi nyatanya di saat kesombongan itu terjadi, diri ini lupa kelak akan datang hari pertanggungjawaban. Sungguh, aku juga tak memahami apa mauku.
Saat malam itu berakhir dan setelah aku membuat tekad baru untuk diri yang lebih baik, cerahnya pagi ternyata enggan menyapa dan sengaja lupa memberitahu akan tekad yang harus kulakukan hari ini karena nyatanya diriku sendiri tidak berani memilih keberanian, takut akan ketakutanku sendiri. Aku terlalu lemah. Betapa lemahnya diriku saat aku mengetahui kebenaran. Namun, lidah ini terlalu kelu untuk mengutarakannya. Sejatinya mulut ini merupakan terjemahan suara hati, tapi sayang justru mulut mengunci diri dari hati yang sedang bergejolak dan terus memberontak. Lantas, bagaimana bisa aku akan memahami diriku sendiri sedang aku selalu menolak suara hati yang mendengungkan kebaikan.

Malam lainpun datang dan membangunkanku. Sepertinya malam selalu menyiratkan sebuah pesan yang sama kepada hati yang sedang netral. Dalam kekhusukan, air mata menjadi penjernih pikiran. Seakan segala penyesalan terlampiaskan bersama alirannya. Dan saat itu aku benar-benar memohon kepada-Nya. Ya Allah, tolong tuntun aku ke dalam jalan-Mu.

Beberapa hari kemudian keajaiban datang. Keajaiban yang akan membawaku ke tempat lain di mana aku takkan hidup lama bersama orang tuaku. Aku yakin, sepertinya ini adalah sebuah jawaban yang sebenarnya kunantikan. Jalan ini sama sekali tak pernah terlintas dalam benak karena ini adalah sebuah pilihan yang berat. Tapi, semakin beratnya pilihan yang aku ambil semakin memberikan keyakinan yang kuat meskipun banyak resiko yang harus kuterima. Hanya berbekal keyakinan dan atas nama-Nyalah aku menerima pilihan ini demi masa depanku yang lebih baik.

Dan akhirnya, DI SINILAH aku mulai mengerti bagaimana sejatinya hidup ini harus dijalankan. Seakan aku baru mencicipi dan merasakan makna persahabatan, pengorbanan, perjuangan, tangisan, tawaan, kebersamaan, kepedulian, dan impian. Dan baru kali ini aku merasakan sebuah ikatan yang sangat kuat. Ikatan yang mengarjarkanku akan makna pertemanan dan persaudaraan. Bukan sembarang ikatan, karena tidak semua orang memahami dan mempunyai ikatan ini. Karena di balik ikatan ini ada Zat Maha Besar. Ikatan yang berlandaskan pada Allah SWT.

Berawal dari angkatan Sagacious yang membuat cabangnya menjadi kelas Six Sense dan Six Pack. Bersamanyalah aku melewati semua ini berserta impian-impianku. Bersamanyalah aku semakin yakin bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang berusaha di jalan-Nya. Dan pastinya semua ini tak terlepas dari jasa para guru yang berhasil membina angkatan Sagacious menjadi generasi Islam yang bertarget masa depan.

06-05-13/14:48/Senin

Kamis, 02 Mei 2013

SIAPA BILANG GENERASI PERTAMA KORBAN PERCOBAAN? Jangan Takut Menjadi Pendobrak, Karena Pendobrak bukan Pemberontak!



Let’s check it out...

Siapakah manusia yang terhebat yang pertamakali mendarat di bulan?
Niel Amstrong...

Siapakah ilmuwan sesungguhnya yang pertama di dunia sehingga mendapat julukan bapak ilmiah modern, sang fisikawan teori pertama, dan penemu hukum refraksi?
Al Hassan Ibnu al-Haitsam...

Siapakah orang yang berani mengambil resiko kematian dengan melakukan operasi caesar pertamakali di dunia kalau bukan sang ahli yang telah menghabiskan hidupnya untuk belajar?
Al Zahrawi...

Penemu kopi pertama? Tanpanya manusia tidak akan pernah mengenal dan merasakan kenikmatan kopi.
Khalid...

Siapa orang pertama yang mencoba membuat konsruksi sebuah pesawat terbang dan berhasil menerbangkannya bahkan ribuan tahun sebelum Wright bersaudara?
Abbas ibn Firnas...

Siapakah penemu angka nol pertamakali dan seorang ahli aljabar pertamakali di dunia?
Al Khawarizmi...

Siapakah penemu pertama teori relativitas di dunia?
Abu Yusuf bin Ashaq al-Kindi...

And many more... Semuanya telah diabadikan dalam tinta sejarah peradaban emas dunia.

Pertanyaan hanya cukup sebatas siapakah yang pertama, tapi apakah orang lain pernah terfikirkan siapakah yang menjadi kedua...? Karena sejatinya menjadi yang kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan kekeke...takkan pernah berlanjut tanpa ada yang pertama.

Sebenernya tulisan ini terinspirasi dari salah satu pembimbingku di sekolah. Kebetulan angkatanku termasuk angkatan pertama. Jadi, segala macam program baru sekolah ‘dicobakan’ kepada kita. Mulai dari Latihan Kepemimpinan Dasar (LDK), Latihan Kepemimpinan Menengah dan Manajemen (LKMM), dan sampailah ke program terakhir yang lebih besar yaitu Latihan Kepemimpinan Manajemen tingkat Atas (LKMA) goes to Malaysia yang sebelumnya menurut kita program ini nggak bakal terwujud, justru terlampaui dengan sangat sukses. Saat itulah kita merasakan titik puncak keberhasilan akan sebuah impian dan perjuangan yang teraih. Dan pastinya semua pengalaman yang dilakukan angkatan pertama akan selalu menjadi kesan tersendiri dan contoh buat generasi berikutnya untuk menjadi lebih baik. Apalagi kita sebagai seorang muslim yang senantiasa memberikan teladan yang baik kepada adik-adik kelas, dan jika itu terus menginspirasi angkatan-angkatan berikutnya maka pahala juga tidak akan berhenti kepada angkatan pertama sampai kebaikan itu berhenti.

Yang pertama akan selalu menjadi yang pertama. Itulah yang menjadi pembeda yang pertama dan yang kedua. Yang ketiga juga tidak akan pernah menyamai yang kedua, tapi asal tahu bahwa kesamaan yang kedua, ketiga, keempat, dan kekeke...adalah muncul setelah mendapat inspirasi dari sang pertama.

Siapa bilang menjadi yang pertama itu praktis, mudah, simple?

Sulit? Butuh kerja keras? Butuh komitmen tinggi? Disiplin waktu? Dituntut untuk peka? MEMANG HARUS...

Tidak ada sesuatu sekecil apapun yang didapat dengan praktis. Kerikil saja yang sering ditemui di pinggir jalan, mungkin sekilas orang akan menganggap kerikil itu sudahlah kecil sering pula terlempar kesana kemari oleh setiap kaki-kaki atau benda silinder (baca: ban)  yang bertemu dengannya, nggak penting. Tapi  apakah orang pernah terlintas berfikir bahwa ada sebuah pengorbanan dibalik kerikil yang berasal batu yang sangat besar dan berat itu. Bagaimana bisa menjadi batu sekecil itu? Butuh upaya seorang buruh yang rata-rarta berusia senja dengan gaji hanya mencapai se-ribuan dalam seminggu untuk memecahkan batu menjadi kerikil.

Butuh pengorbanan disetiap tekad dalam benak.

Alkisah di sebuah negara kerajaan yang rajanya diktator terus menerus memeras uang rakyat. Beberapa diantara mereka yang membangkang kehendak raja demi memperolah penghidupan yang layak dari sang raja, atau mereka yang mengetahui kebusukannya, ketika esok tiba, tiada yang menahu tiba-tiba menghilang dari keluarganya, ia sudah dicebloskan ke dalam penjara kerajaan. Sudah banyak manusia yang menjadi tawanan, dikurung di sebuah jeruji besi karena dianggap bisa membahayakan kerajaan. Kondisi itu pasti takkan sanggup membuat mereka hidup tahan lama. Atau ketika mereka bisa bertahan lama pun mereka akan selalu sengsara. Namun, kejadian itu tak sampai terjadi ketika ada salah seorang diantara mereka yang menyadari bahwa permukaan bawah yang mereka injak adalah tanah. Jauh dari alat-alat canggih, hanya bersisa satu sumpit yang sudah patah. Itupun bekas alat makan yang sudah diberikan dua hari yang lalu. Ia berusaha mengajak teman-teman seselnya untuk bersama-sama menggali tanah ini hingga menembus pangkal jeruji sel. Tapi semua menolak. Tidak mungkin berhasil. Bahkan beberapa diantara mereka sudah pasrah dengan keadaan sengsara karena mereka yakin berbagai upaya yang dilakukan untuk kabur pasti akan ketahuan.

Saking kuatnya tekad untuk kabur karena tidak ada alasan benar dari sang raja untuk menghukum mereka, ia tetap konsisten dengan tekad dan kebenarannya. Berhari-berhari ia terus menggali tanah dengan sumpit. Bahkan ia sering menggunakan tangannya agar jangkauan tanah yang diambiil lebih lebar dan banyak. Sesekali penjaga datang pada jam-jam tertentu untuk mengecek kondisi para tawanan, sesegera mungkin ia memasukkan kembali beberapa tanah yang sudah digali lalu ia mendudukinya agar tak terlihat oleh penjaga bahwa tanah itu berlubang. Berulang-ulang ia melakukan hal itu. Hanya dengan tekad bahwa selama ini yang ia lakukan benar, justru rajalah yang seharusnya dihukum karena telah menelantarkan dan memeras uang rakyat, ia yakin bahwa yang tidak bersalah pasti akan bebas.

Hari demi hari sampai tiba hari ke-15 ternyata lubang yang digalinya sudah cukup untuk dimasuki satu orang untuk melewati jeruji. Tidak mudah untuk menggali lubah sebesar itu tanpa alat bantu dengan penjagaan yang sangat ketat.

Ia tahu beberapa menit lagi penjaga akan datang, ia pun bersegera menutupi lubang tersebut dan mendudukinya. Segera mungkin ia membongkar tanah-tanah itu lalu mengajak semua penghuni sel untuk keluar satu per satu. Akhirnya mereka berhasil lolos.

So, pesanku to anyone who read this...

Jangan takut untuk menjadi yang pertama, berusahalah untuk menjadi yang pertama, karena yang pertama akan selalu menjadi yang pertama dan akan dikenang selama-selamanya. Berbanggalah. Karena jiwa pertama adalah jiwa PEMIMPIN.

02-03-13/Sabtu/17:26


Rabu, 01 Mei 2013

I'M PROUD TO BE "Ze"

Hallo, I want to introduce the new one of my self. I’m Ze... Ze? Yeah, coz I’m the type of "girl" who has good and strong willing:

Trying to do everything ZESTfully for the sake of my dream coz Allah,

Let my imagination flying away in the sky as ZEPPELIN with body no plessure,

ZEALOUS make something seems easly and satisfying,

A ZANY girl... me??? Wait, no... no... no... I doubt of it, not bad but I like that type,

Islam, dream, desire of life, and I’m ZEALOT of it,

Fighting for Islam till ZENITH of my breath and the last drop of blood,

Islam ZONE is my eternal shelter,

Life without sin is impossible, but the effort to avoid from it, repent of sins... Starting from ZERO to charge the new life is better choise.

The last, say ZIP ZIP for my self.

ZEST, ZEPPELIN, ZEALOUS, ZANY, ZEALOT, ZENITH, ZONE, ZERO, ZIP...  That’s Ze, last alphabet...


12-03-13/12:01/Rabu_di bawah kasur_pulang sekolah